Di tengah arus globalisasi dan hantaman pandemi COVID-19, diplomasi ekonomi Indonesia bergerak dari jargon ke hasil nyata. Dalam tradisi hubungan internasional, kepentingan ekonomi memang sejak lama menjadi pendorong hubungan diplomatik (Berridge & James, 2003). RPJMN 2020–2024 secara tegas menempatkan diplomasi ekonomi—khususnya ekspor dan investasi—sebagai tuas pertumbuhan (Kementerian PPN/Bappenas, 2020). Fokus ini kian relevan ketika perang dagang AS–Tiongkok mengguncang rantai pasok dan mendorong negara-negara ASEAN—termasuk Indonesia—berlomba memperkuat daya saing kawasan (Sayekti, 2019).
Berbeda dari era sebelumnya yang lebih menonjolkan diplomasi politik-keamanan, Presiden Joko Widodo mendorong orientasi yang lebih pragmatis: perdagangan internasional dan investasi asing sebagai mesin kesejahteraan. Dorongannya lahir dari sederet faktor: defisit neraca perdagangan dan rapuhnya rupiah (BPPK Kemlu, 2015); dominasi ekspor berbasis bahan mentah dan belum optimalnya posisi Indonesia dalam global value chains (Nurdiati et al., 2018); melambatnya pertumbuhan di pasar tradisional Barat dan Asia Timur (Prasetyo & Susandika, 2021); efektivitas kerja sama kawasan yang belum maksimal; hingga kebutuhan hilirisasi untuk mencipta nilai tambah di dalam negeri (CNN Indonesia, 2019).
Pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadikan Asia Tenggara pasar tunggal yang menuntut perbaikan regulasi investasi dan perdagangan lintas batas. Realitasnya, kontribusi lapangan kerja manufaktur di negara berkembang masih kecil jika dibandingkan negara maju (Arfani & Hapsari, 2021). Di sinilah diplomasi ekonomi menjadi instrumen kebijakan luar negeri yang bukan hanya mengejar surplus, tetapi juga menata struktur produksi dan memperkuat ekosistem industri domestik (Okano-Heijmans, 2011).
Kebijakan luar negeri periode kedua Jokowi menempatkan penguatan peran Indonesia di ASEAN dan diplomasi ekonomi sebagai prioritas—sejalan dengan agenda penyelesaian perbatasan, perlindungan WNI, dan perluasan jejaring global (Haryono, 2019).
Pada periode pertama, Indonesia mendorong penghapusan hambatan non-tarif dan pembukaan pasar baru: Eropa Timur-Tengah, Afrika, Amerika, Karibia, hingga Asia yang bertumbuh cepat (Kemlu RI, 2015). Orientasi ini kian penting di era pasca pandemi, ketika ketahanan perdagangan dan investasi harus dijaga sekaligus dipulihkan.
Dari sisi kinerja, manufaktur terbukti menjadi tulang punggung ekspor. Periode Januari–April 2023, manufaktur menyumbang 70,21 % dari total ekspor nasional, dengan ekspor senilai US $60,63 miliar dari total US $86,35 miliar (Junida, 2023). Selama tahun 2023, ekspor sektor industri pengolahan (manufaktur) mencapai US $186,98 miliar, menyumbang 72,24 % dari total ekspor nasional sebesar US $258,82 miliar (Mahadi, 2024). Dari sisi investasi di sektor manufaktur, sepanjang tahun 2022, realisasi investasi sektor manufaktur mencapai Rp497,7 triliun, naik 52 % dibandingkan tahun sebelumnya (Islamiati, 2023). Periode Januari–September 2022, sektor manufaktur menyumbang 40,9 % dari total investasi nasional, mencapai Rp365,2 triliun (Gani, 2022).
Pasca COVID-19, sektor manufaktur tetap menjadi andalan ekspor Indonesia, walaupun kontribusinya turun sedikit dari kisaran 75–80 % menjadi sekitar 70–72 %, tetapi tetap mendominasi. Di sisi investasi, manufaktur mencatat pertumbuhan signifikan pada 2022, memperkuat keyakinan bahwa industrialisasi dan hilirisasi adalah strategi utama keluar dari krisis—selaras dengan semangat “tidak menjual komoditas mentah saja”.
Bagaimana strategi diplomasi ekonominya?
Pertama, economic salesmanship: para diplomat dan duta besar diposisikan sebagai “tenaga penjual” negara untuk mempromosikan perdagangan dan investasi, bersinergi lintas kementerian dan bank sentral (Sabaruddin, 2016). Pandemi memang membatasi pameran fisik, tetapi membuka ruang bagi kurasi virtual dan temu bisnis daring—membuktikan promosi bisa lincah tanpa kehilangan skala (Kemendag, 2020).
Kedua, networking: ekspansi BUMN ke Afrika; penyelenggaraan Trade Expo Indonesia; dan jejaring dengan filantropi teknologi—misalnya kemitraan dengan Alibaba/Jack Ma—yang menunjukkan diplomasi ekonomi juga menyasar kolaborasi penanganan krisis (Kemlu RI, 2020).
Ketiga, image building/promotion: membangun citra keandalan produk dan ekosistem usaha Indonesia melalui kunjungan kenegaraan, forum G20, dan business matching virtual. Ini bukan sekadar kampanye reputasi; citra positif memperpendek trust gap investor dan pembeli (Kemendag, 2020).
Keempat, regulation management: pembentukan koalisi domestik negara–swasta untuk menetapkan standar dan menyelesaikan perjanjian perdagangan prioritas—dari IEU-CEPA hingga PTA/CEPA di berbagai kawasan—sekaligus menerbitkan protokol dagang era normal baru (Basith, 2020; Kemendag, 2020).
Empat poros ini saling menguatkan: promosi menarik minat, jejaring membuka pintu, citra menumbuhkan kepercayaan, regulasi memastikan kepastian hukum.
Dalam kerangka negara berkembang, tipe diplomasi ekonomi yang efektif memang bertumpu pada kemitraan publik–swasta yang luas (Rana, 2007). Indonesia mempraktikkan pola ini: negara menyiapkan perjanjian, regulasi, dan promosi; pelaku usaha mengeksekusi ekspor-investasi dan memperkuat rantai pasok. Ketika hambatan non-tarif ditekan, pasar non-tradisional dibuka, dan hilirisasi dipacu, manufaktur memperoleh ruang bernapas untuk naik kelas—dari sekadar perakit menjadi produsen bernilai tambah.
Tentu masih ada pekerjaan rumah: memperlebar basis produk, memperdalam teknologi, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja berkualitas—agar lonjakan ekspor dan investasi terkonversi menjadi kesejahteraan yang merata. Namun arah kebijakan sudah tepat: diplomasi ekonomi bukan pelengkap, melainkan instrumen inti pemulihan dan transformasi. Dengan kombinasi salesmanship yang agresif, jejaring yang relevan, promosi yang kredibel, dan manajemen regulasi yang adaptif, Indonesia menegaskan peran sebagai produsen bernilai—bahkan di tengah guncangan pandemi (Nabilla, 2021; Haryono, 2019). Intinya, pandemi mempercepat pembuktian bahwa diplomasi ekonomi bekerja ketika strategi industri dirangkai dengan perjanjian dagang, promosi cerdas, dan eksekusi hilirisasi. Jika konsisten, Indonesia tak hanya pulih—tetapi melaju sebagai basis manufaktur utama ASEAN, dengan diplomasi ekonomi sebagai mesin penggerak (Kemendag, 2020; Kemenperin, 2021; Santia, 2021).
Referensi
Arfani, R. N., & Hapsari, M. (2021, 22 Desember). Diplomasi komoditas Indonesia pascapandemi. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/opini/459557/diplomasi-komoditas-indonesia-pascapandemi Media Indonesia
Basith, M. K. (2020, 18 November). Ini lima prioritas perjanjian dagang yang dikejar Indonesia tahun 2020. Kontan.co.id. https://nasional.kontan.co.id/news/ini-lima-prioritas-perjanjian-dagang-yang-dikejar-indonesia-tahun-2020kontan.co.id
Berridge, G. R., & James, A. (2003). A dictionary of diplomacy (2nd ed.). Palgrave Macmillan. kamudiplomasisi.org
CNN Indonesia. (2019, 20 November). Jokowi yakin hilirisasi atasi defisit transaksi berjalan. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191120191505-532-450112/jokowi-yakin-hilirisasi-atasi-defisit-transaksi-berjalan CNN Indonesia
Gani, M. (2022, Oktober 24). Investasi Sektor Manufaktur Naik 54% Tahun 2022.Kemenperin. https://ikmbspjisby.kemenperin.go.id/index.php/web/newsDetail/492
Haryono, E. (2019). Economic diplomacy as Indonesian foreign policy orientation in 2015–2018: Challenges and opportunities. Global Strategis, 13(2), 49–62. https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/12067 Universitas Airlangga Journal
Islamiati, R. (2023, Januari 25). Investasi Sektor Manufaktur Tembus Rp497,7 Triliun, Ini Klaim Kemenperin. https://ekonomi.bisnis.com/read/20230126/257/1621868/investasi-sektor-manufaktur-tembus-rp4977-triliun-ini-klaim-kemenperin.
Junida, A. (2023, Mei 15). Kemenperin yakin ekspor manufaktur Indonesia kembali meningkat. Antara News.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (2015). Pedoman umum upaya peningkatan kualitas pelaksanaan diplomasi ekonomi. https://kemlu.go.id/files/repositori/56594/03_Pedoman_Umum_Upaya_Peningkatan_Kualitas_Pelaksanaan_diplomasi_Ekonomi.pdf kemlu.go.id
Kementerian Perencanaan Pembangunan
Mahadi, A. (2024, Januari 17). Kemenperin: Ekspor industri manufaktur tembus US$187 miliar selama tahun 2023.Kontan. https://industri.kontan.co.id/news/kemenperin-ekspor-industri-manufaktur-tembus-us-187-miliar-selama-tahun-2023
Nasional/Bappenas. (2020). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024: Buku I—Agenda Pembangunan Nasional. https://www.bappenas.go.id/id/publikasi/rpjmn-2020-2024 perpustakaan.bappenas.go.id
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2021, 12 September). Unggul di ASEAN, kinerja industri Indonesia terus menguat. https://kemenperin.go.id/artikel/22780/Unggul-di-ASEAN,-Kinerja-Industri-Indonesia-Terus-Menguathubunganinternasional.id
Nabilla, N. (2021). Strategi diplomasi ekonomi Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19. Jurnal Sosial dan Politik, 7(2), 227–239. https://doi.org/10.22219/sospol.v7i2.15925
Nurdiati, R. P., Oktaviani, R., & Sahara, S. (2018). Peran Indonesia dalam rantai nilai global produk elektronik. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, 4(1), 49–70. https://doi.org/10.29244/jekp.4.1.49-70 IPB Journal
Okano-Heijmans, M. (2011). Conceptualizing economic diplomacy: The crossroads of international relations, economics, IPE and diplomatic studies. The Hague Journal of Diplomacy, 6(1–2), 7–36. https://doi.org/10.1163/187119111X566742 Brill
Prasetyo, A. S., & Susandika, M. D. (2021). Analisis respon pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat external shockAmerika Serikat dan China. E-Journal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi, 8(1). https://doi.org/10.19184/ejeba.v8i1.22902jseahr.jurnal.unej.ac.id
Rana, K. S. (2007). Economic diplomacy: The experience of developing countries. In N. Bayne & S. Woolcock (Eds.), The new economic diplomacy: Decision-making and negotiations in international economic relations (2nd ed.). Ashgate. (Ringkasan resmi: https://kishanrana.diplomacy.edu/article/economic-diplomacy-the-experience-of-developing-countries/) Kishan S Rana
Sabaruddin, S. S. (2016). Grand design diplomasi ekonomi Indonesia: Economic salesmanship. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 12(1), 69–90. https://media.neliti.com/media/publications/98669-ID-grand-design-diplomasi-ekonomi-indonesia.pdf Neliti
Sandi, F. (2021, 25 Oktober). Catat! Investasi manufaktur tembus Rp236 T hingga Q3-2021. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20211025111432-4-286073/catat-investasi-manufaktur-tembus-rp236-t-hingga-q3-2021 CNBC Indonesia
Santia, T. (2021, 8 Agustus). Sederet keuntungan kerja sama dagang ASEAN untuk ekonomi Indonesia. Liputan6.com. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4624035/sederet-keuntungan-kerja-sama-dagang-asean-untuk-ekonomi-indonesia liputan6.com
Sandi, F. (2020, 21 Juli). Ekspor manufaktur Indonesia di semester I-2020 capai US$60,76 miliar. CNBC Indonesia. [Tautan tidak tercantum di naskah asli].